Masalah Biofuel
November 4, 2007 at 8:22 am 1 komentar
Seperti yang diberitakan oleh Bisnis Indonesia Online Senin 22 Oktober 2007 bahwa Industri biofuel (minyak nabati), yang bersumber dari minyak sawit mentah (CPO), nasional terpaksa menghentikan kegiatan produksi mereka sejak 2 bulan terakhir, karena harga bahan baku yang terus bergerak naik hingga melampaui US$800 per ton. Kenapa bias seperti itu? Menurut menurut Bapak Didik Purwadi pengampu mata kuliah kuliah analisa sistem, ternyata kelemahan dari pengembangan bioenergi dari CPO adalah karena bahan baku CPO yang digunakan merupakan bahan baku pangan sehingga persaingan permintaan bahan bakunya bersaing dengan industri pangan seperti industri minyak goreng yang berakibat naiknya harga CPO. Tidak heran akhir-akhir ini pemerintah pusing akan kenaikan harga CPO yang berimbas pada kenaikan harga minyak goreng.Kasus biofuel dari etanol tidak jauh berbeda dengan kasus biofuel dari CPO. Kepala Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Alhilal Hamdi juga menyatakan, keterbatasan etanol untuk memenuhi bahan bakar menjadi kendala utama. Etanol yang tersedia, jadi rebutan dengan dengan industri lain. “Etanol di Indonesia masih digunakan untuk industri alkohol atau industri lain seperti rokok dan plastik,” paparnya (indobic.or.id). Para produsen etanol yang tergabung dalam Asosiasi Etanol Indonesia menghasilkan kualitas fuel grade ethanol atau kadar etanolnya 99 persen. Rencananya etanol ditawarkan seharga Rp 5.300 per liter. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan produsen lain. Saat ini, mengacu pada Mid Oil Pods Singapura, harga etanol mencapai Rp 7.000 per liter. Akan tetapi, mengingat volume kebutuhan untuk bahan bakar jauh lebih besar, maka produsen berani menawarkan harga lebih rendah bagi Pertamina. Lalu apa yang terjadi pada bioenergi dari jarak pagar? Saat terjadi lonjakan harga bahan bakar minyak pemerintah mewanti-wanti para peneliti untuk mengembangkan energi alternatif yang bernama biofuel. Tidak tanggung-tanggung, banyak daerah di indonesia yang mempunyai lahan kosong di instruksikan untuk menanam jarak pagar untuk keperluan bioenergi. Tetapi sekarang gaung tentang jarak pagar sebagai energi alternatif semakin melemah bahkan hilang. Ternyata kendala yang saat ini dihadapi antara lain kendala musim, yaitu tanaman jarak pagar hanya bisa dipanen dua kali dalam setahun. Selain itu, minyak yang dihasilkan dari biji jarak cukup sedikit. Setelah diproses, minyak yang dihasilkan dari setiap biji jarak hanya sekitar 30%. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan biodiesel dalam jumlah yang besar dibutuhkan areal penanaman dalam skala yang lebih luas. Dalam setiap hektare, jumlah tanaman jarak pagar sekitar 2.000 – 2.500 pohon. Lalu…?
Entry filed under: edisi oktober november 07. Tags: .
1 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
conandole | November 15, 2007 pukul 3:36 am
pertamaxxxxxx
memang perkembangan biofuel perlu dipertanyakan…..!!!!!!!!!!